... is probably when you don't know what to do. In a complete haze, in a way that people expecting you to understand things, but they never teaching you anything beforehand. Tuntutan untuk 'bisa' trs ada, cuma mereka nggakpernah ngajarin lo, or at least ngasih tau caranya lah gmn. Buat gue, life is cold, in this part. Agak bitter, karena beruntung buat mereka yang sudah tau caranya lebih dulu dan berkembang di kondisi yg memungkinkan hal itu ada buat mrk. Mrk tgl jln aja, nggak ada hambatan berarti. But for those whose in lesser condition. Meh.
Mending kalau ada sedikit empati dr yg upper condition itu. Kebanyakan kalau mereka tau (krn terlanjur enak hidupnya), mereka trs jln aja and say, "well, itu urusan lo. Gue hidup enak, jgn ganggu gue." In a lesser condition you gotta learned 3x harder. Think 3x harder, dengan isi kepala yg diacak-acak dan disuruh buat segala sesuatunya dari awal.
Sunday, June 23, 2013
Tuesday, April 30, 2013
Cadar Shafira
Baru duduk kemarin nunggu kereta dari Depok ke Tebet, when I met Shafira (35), dengan anak laki-lakinya yang duduk di sebelah gue.
She wear cadar hitam yang menutupi kepalanya dan wajah, hingga gamis hitam legam ke kaki, berikut jemarinya dengan sarung tangan kaus berwarna hitam. Out of curiousity (penasaran), karena gue belum pernah bicara dengan yang pakai 'cadar total' sebelumnya, so I introduced myself to her.
Gue: Sori ya mbak, kalau tiba-tiba ngajak ngobrol begini. Soalnya saya belum pernah ngobrol, tanya-tanya gitu sama yang pakai cadar
Shafira: Oh nggak papa (tertawa), namanya juga penasaran. Boleh, silakan tanya aja.
Gue: Udah berapa lama pakai cadar?
Shafira: Saya sudah 2 tahun... Sebelumnya saya sama kayak adik (merujuk ke gue yang pakai polo shirt dan jeans), tapi terus saya memutuskan pakai ini (cadarnya)

Gue: Hmm.. Kalau boleh tahu, apa yang membuat mbak pakai cadar?
Shafira: Alhamdulillah, hidayah Allah.
-- Hingga akhir ngobrol, beliau tidak menyebutkan bentuk hidayahnya seperti apa. I respect her dengan nggak nanya usil.
Gue: Waktu mbak pakai cadar ini, kesulitan nggak sih makainya? Ribet saat melakukan aktivitas?
Shafira: Nggak tuh... nyaman-nyaman aja. Tidak menghalangi saya bergerak.
Gue: Oke... Lalu, gimana pandangan orang-orang, stigma masyarakat waktu mbak pakai cadar ini?
Shafira: Saya pernah disangka teroris (hah?), pernah dikatain ninja juga (dia ketawa). Orang ada yang komentar, tapi ya begitu aja sih.
Gue: Oh gitu... hehe. Digangguin juga?
Shafira: Pernah saya digangguin (dengan nada heran), padahal saya sudah pakai ini (cadar) tetap digangguin juga ya? Tapi alhamdulillah, nggak pernah kelewatan, mungkin dilindungi Allah.
Gue: (Pertanyaan yang selalu pengen gue nanya, muncul) Mm, mbak. Saya pernah baca, (lupa baca dimana, novel, I guess) kalau di Arab Saudi, remaja perempuan disana, 16-17tahunan gitu, suka sembunyi-sembunyi pakai tank top dan celana jeans di balik burqa' nya. Jadi pas ortunya ngga ngeliat, mereka lepas atasan gitu, terus jalan ke mall, dst. Itu bener?
Shafira: Wah, gitu ya? Saya juga baru denger (ketawa renyah). Saya nggak tahu sih kalau yang itu. Cuma kalau cerita lain sih pernah, ada perempuan Arab Saudi yang pernah ke Indonesia, pas di Indonesia, burqa'nya dilepas, tapi pas balik lagi ke Arab dipake lagi.
Gue: (really? ke Indo cuma jadi transit lepas jilbab doang? serius?) Terus pendapat mbak gimana (soal 2 kejadian di atas, terutama si remaja arab gaul yg gue bilang) ?
Shafira: Kasihan aja... Nggak dapet manfaatnya kalau begitu. Gunanya hijab kan untuk melindungi... Ya mungkin anak-anak remaja tersebut melakukannya karena dipaksa orangtua... kan kalau disana juga peraturan kan. Wajib pakai. Si anak remaja tersebut merasa berat karena dipaksa memakainya. Makanya dilepas. Coba kalau dari keinginan sendiri...
Gue: Hmm... btw, pekerjaan mbak apa?
Pertanyaan soal pekerjaan muncul dikarenakan gue ingin tahu jenis pekerjaan apa yang membuatnya bisa menggunakan cadar secara total. Yang gue lihat itu tertutup banget loh, dari atas sampai bawah (kecuali matanya). Kebanyakan pekerjaan yang gue tahu di era modern ini kebanyakan tidak memperbolehkan hijab secara total. Hijab biasa mungkin, tapi kalau cadar total, blm tahu.
Shafira: Saya guru.
Gue: (mengangguk - ok, bisa dimengerti) Guru ngaji?
Shafira: Nggak, guru matematika.
Gue: Guru matematika, as in di kelas?
Shafira: Nggak, saya di pondokan.
Gue: Ok... Itu pondokan sistemnya ngariung* / beneran di dalam kelas? ("Dalam kelas", she said) Mmm, itu ada kesulitan nggak waktu menyampaikan materi ajaran? (considering mulutnya nggak kelihatan, karena ditutupi cadar, so I assume suaranya juga bergumul di dalam 'nggak kedengeran')
Shafira: Nggak, baik-baik aja tuh. Saya malah kadang sering teriak kalau lagi ngajar (tertawa - He?) Nggak kok, nggak ada kesulitan berarti. Kalau sudah dijalani apalagi sudah tulus ikhlas, ya semuanya aman-aman saja.
Ibu Shafira adalah seorang pengguna Niqab* yang setia. Suaminya bukan ustadz, dan dia juga jarang ikut pengajian. Ia dan suami sering berdiskusi tentang syariah kalau lagi sharing.
Gue: Saya sering mendapati muslim yang keras, yang kesannya antipati banget dengan yang bukan muslim. Kalau ibu sendiri bagaimana?
Shafira: Kalau untuk urusan ukhwuwah (kebersamaan/silaturahmi), saya nggak papa kok berkumpul. Cuma saya selalu pegang agama saya. Buat saya agama saya yang benar. Allah juga bilang kan? "Agama yang selain Islam itu kafir.", Jadi saya sebatas itu saja pendapat saya.
Pembicaraan berakhir begitu kereta Bu Shafira datang. Gue masih menunggu kereta gue.
---
*Ngariung (bahasa sunda); berkumpul, sistem kelas yang ngga ada bangku & meja, semuanya duduk bersila di lantai.
"I was a heavy-drinker, not an alcoholic."
Melihat tampilan pak Bobby, laki-laki di kisaran 40 tahun ini, tidak ada yang menyangka bahwa dia pernah berkecimpung di dunia entertainment selama 8 tahun.
Dia begitu 'biasa'... nggak ada kesan gemerlap, yang biasanya dilihat pada mereka yang pernah ada di dunia hiburan.
Sekarang pak Bobby ini punya warung makan pinggiran di Melawai. Dimulai dengan pesanan ayam goreng penyet gue dan teh botol dingin, kita ngobrol sambil nemenin gue nunggu angkot.
"Saya dulu kerja di PH (Production House). Ngelamar jadi OB (Office Boy)... terus kerja selama 8 tahun, sampai naik pangkat jadi (setara) manager. Waktu itu saya dipindah ke bagian produksi."
Kok nggak dilanjutin? - "Nggak bisa mbak. Waktu itu saya baru beberapa tahun nikah. Istri baru hamil anak pertama. Kalau di bagian produksi itu, saya mesti sering ke luar (kota). Saya ngga bisa kalau mesti ninggal istri lagi hamil."
Oh.
Jagad, anak perempuan pak Bobby, ikut bermain di sekitar gue dengan bubble wrap.
"Lucu ya, namanya Jagad?"
"Anak saya memang namanya aneh-aneh mbak. Hahaha."
Pak Bobby bercerita kalau istrinya tengah mengandung (lagi) anak ke 4. Antara anak ke-4 atau ke-5 dia sendiri kurang yakin, karena kemungkinan anak yang tengah dikandung istrinya ini anak kembar.
"Saya belum bawa ke USG, cuma kan ada sesepuh yang sudah bisa lihat dari bentuk kandungan 6 bulan ini kok besar ya? ... Terus ditanya, kalau posisi ini (merunduk) sakit nggak? Kalau begini (posisi lain lagi), gimana? Dan sesepuh-sesepuh itu bilang, 'wah, mungkin kembar.'"
Ia kemudian bertanya apa gue masih kuliah/kerja. Gue bilang kalau gue lagi magang, dan kemudian dia mengangguk setuju, "Iya sih mbak... jaman sekarang memang perlu magang buat tambah pengalaman. Saya aja dulu kerja lama 8 tahun juga, duitnya habis entah kemana."
Lah, kok bisa gitu? - "Lingkungan pekerjaannya mbak. Di PH saya biasa ngerjain video clip, sinetron, dan FTV. Dan setelahnya biasanya saya ngumpul-ngumpul (sama kru lain), entah makan-makan lah, minum...", disini dia mengiyakan waktu saya bilang, hedonis.
"Iya mbak. Duit itu seakan habis dengan pergaulan. Mana teman-teman saya (kru yang lain), tipenya juga foya-foya, sama. Kadang saya pinjemin duit, juga abis juga, nggak dikembaliin."
Waktu gue tanya, ceritanya bisa punya warung makan ini, dia bercerita, "Setelah berhenti, (nggak kuat sama gaya hidup disitu), saya ngumpulin uang seadanya untuk buka usaha ini. Alhamdulillah bisa lebih stabil... Disini saya udah 6 tahun (warung), 3 tahun pertama sudah bisa beli rumah."
"Awalnya susah. Istri saya punya background sama juga sama saya (dari bidang entertainment), dan masih kebawa boros. Saya juga masih kebawa kebiasaan minum... Saya bukan alkoholik mbak. Saya peminum berat. Kalau udah minum, nggak berhenti sblm (isi) botolnya habis. Tepar di lantai." -- Jagad berlari dan tertawa-tawa dengan pedagang lain yang satu deretan kiosnya dengan milik pak Bobby. Ia anak ketiga (untuk saat ini).
"Saya berhenti minum... karena anak sulung saya. Waktu itu dia 5 tahun. Dia sempat ngediemin saya, dulu. Awalnya dia nggak mau cerita 'kenapa nggak mau ngomong sama bapak?', taunya dia bilang, 'saya malu pak. Pas temen saya datang, bapak mabuk kayak gitu.' -- Langsung saya berhenti saat itu juga. Nggak pake dikurangin dulu gitu botol bir saya, saya berhenti total detik itu."
"Badan saya dulu menggigil kalau nggak minum. Untungnya saya nggak pernah 'make' (narkoba), diajak minum sama kru yang lain udah jarang saya ikutin... Lebih mikir efeknya aja sih sekarang mbak. Pekerjaan kacau, emosi juga jadi nggak stabil, kan? Bisa jadi lebih parah kalau saya masih minum, berantem sama istri saya, dan saya 'kasar' sama dia... Aduh, itu saya nggak berani (efeknya)."
Warung makan Amigos di sore hari lumayan sering didatangi. Ayam penyetnya enak juga sih.
(Gambar menyusul)
Mirror site: Zink!
Hati-hati dengan cowok PHP!
Dengan sangat menyesal, saat tulisan ini dibuat, gue adalah salah seorang korbannya – Cowok PHP (Pemberi Harapan Palsu). Mengapa begitu? Karena selain menyakitkan (gondok, terutama!), saya rasa ini jadi pelajaran berharga dan momen tersendiri buat kita merenung, seberapa banyak waktu kita yg terbuang percuma ‘digantung’ cowok macam begini??
Untungnya saya bukan tipikal wanita kebanyakan yang menyerah, pasrah, atau urut dada setelah tahu akal bulusnya. Oh no, I don't. I reveal his trick.
In hope that someday you won’t waste your time chasing false hope, for someone that never there for you in the first place
Let me introduce you to Mr. X.
… the effing bastard.
He is a normal guy. Average.
His particular interest are woman with sense of style – yg maksudnya adalah cewek-cewek high maintenance yang kelewat tinggi dari standar yang bisa dia raih (since – mungkin, dikarenakan perbaikan keturunan, or probably insting ‘memburu’ mereka yang selalu mencari cewek ‘cantik sejagad’, bukti bahwa mereka bisa mendapatkan yang lebih dari kasta mereka).
Ini ciri pertama mereka. Selalu memburu yang lebih jauh dari apa yang mereka bisa capai. Kadang sedikit tidak masuk akal… ngimpi aja lo! – sort of person.
Yet, they are blessed with other things too. You see, tadi kan gue bilang kalau mereka average. Rata-rata. Could be anybody, entah mereka masuk kategori ganteng atau tidak, they actually got something to lure you into them.
… They can be smart. They could be a smooth talker. Anything that gets you wondering, “Wow, that guy has something…” then BAM! It turns out you’ve fallen for that guy.
Argh.
What else? Jago flirting. Itu art yang nggak sembarangan. Nggak banyak gue liat tipikal orang yang bisa merayu orang lain dengan smooth – nyaris nggak kentara, seperti orang ini. As woman like you need attention, there he was, offering help or being the prince charming..
Bagian lainnya adalah apabila dia membuatmu menunggu dengan menggantungkan harapan, apalagi dengan janji/kata-kata manis.
For the good guy, they won’t make you wait. They’ll give assurance whether they actually wants to be with you or not.
For him? I’m not sure. He just didn’t sure of it himself... He wants to be with me, but don’t know when. See? Pernah suatu kali gue mempertanyakan niatnya sesungguhnya, since gue bukan tipikal cewek yang sabar;
My motto is ‘now or never’.
I have a life outside of him.
I have plans, for God’s sakes.
Fuck his coming to my life, I don’t like his way!
Soalnya yang mereka mainkan itu hati.
Perasaan lo, emosi lo. Sering dalam ketidakpastian... Udah lah!
Well, to sum it up, here are the basic tricks to spot a PHP:
- He gives you mix signal. You are sure that they want to be with you. But… oh no, wait. Does he? Kok sekarang beda?
- Seorang PHP adalah seseorang yang menganggap kamu ‘baik untuk dipertahankan, tapi belum waktunya untuk dimiliki’ – jadinya kamu hanya dianggap sebagai cadangan – kamunya nelangsa, dianya yang enak karena punya cadangan.
- Somehow I think this type of guy is insecure. They want you to always be around them, but didn’t actually wants to be with you... Aneh.
- Kau hanya di jaring laba-labanya saja. Jaraknya cukup dekat untuk dijangkau, tapi nggak terlalu jauh untuk dijaring… (sad).
Begitulah.
Ada lagi yang mau menambahkan?
Subscribe to:
Posts (Atom)