Pages

Tuesday, April 30, 2013

"I was a heavy-drinker, not an alcoholic."


Melihat tampilan pak Bobby, laki-laki di kisaran 40 tahun ini, tidak ada yang menyangka bahwa dia pernah berkecimpung di dunia entertainment selama 8 tahun.

Dia begitu 'biasa'... nggak ada kesan gemerlap, yang biasanya dilihat pada mereka yang pernah ada di dunia hiburan.

Sekarang pak Bobby ini punya warung makan pinggiran di Melawai. Dimulai dengan pesanan ayam goreng penyet gue dan teh botol dingin, kita ngobrol sambil nemenin gue nunggu angkot. 

"Saya dulu kerja di PH (Production House). Ngelamar jadi OB (Office Boy)... terus kerja selama 8 tahun, sampai naik pangkat jadi (setara) manager. Waktu itu saya dipindah ke bagian produksi."

Kok nggak dilanjutin? - "Nggak bisa mbak. Waktu itu saya baru beberapa tahun nikah. Istri baru hamil anak pertama. Kalau di bagian produksi itu, saya mesti sering ke luar (kota). Saya ngga bisa kalau mesti ninggal istri lagi hamil."

Oh.

Jagad, anak perempuan pak Bobby, ikut bermain di sekitar gue dengan bubble wrap

"Lucu ya, namanya Jagad?"

"Anak saya memang namanya aneh-aneh mbak. Hahaha."

Pak Bobby bercerita kalau istrinya tengah mengandung (lagi) anak ke 4. Antara anak ke-4 atau ke-5 dia sendiri kurang yakin, karena kemungkinan anak yang tengah dikandung istrinya ini anak kembar. 
"Saya belum bawa ke USG, cuma kan ada sesepuh yang sudah bisa lihat dari bentuk kandungan 6 bulan ini kok besar ya? ... Terus ditanya, kalau posisi ini (merunduk) sakit nggak? Kalau begini (posisi lain lagi), gimana? Dan sesepuh-sesepuh itu bilang, 'wah, mungkin kembar.'"

Ia kemudian bertanya apa gue masih kuliah/kerja. Gue bilang kalau gue lagi magang, dan kemudian dia mengangguk setuju, "Iya sih mbak... jaman sekarang memang perlu magang buat tambah pengalaman. Saya aja dulu kerja lama 8 tahun juga, duitnya habis entah kemana."

Lah, kok bisa gitu? - "Lingkungan pekerjaannya mbak. Di PH saya biasa   ngerjain video clip, sinetron, dan FTV. Dan setelahnya biasanya saya ngumpul-ngumpul (sama kru lain), entah makan-makan lah, minum...", disini dia mengiyakan waktu saya bilang, hedonis. 

"Iya mbak. Duit itu seakan habis dengan pergaulan. Mana teman-teman saya (kru yang lain), tipenya juga foya-foya, sama. Kadang saya pinjemin duit, juga abis juga, nggak dikembaliin."

Waktu gue tanya, ceritanya bisa punya warung makan ini, dia bercerita, "Setelah berhenti, (nggak kuat sama gaya hidup disitu), saya ngumpulin uang seadanya untuk buka usaha ini. Alhamdulillah bisa lebih stabil... Disini saya udah 6 tahun (warung), 3 tahun pertama sudah bisa beli rumah."

"Awalnya susah. Istri saya punya background sama juga sama saya (dari bidang entertainment), dan masih kebawa boros. Saya juga masih kebawa kebiasaan minum... Saya bukan alkoholik mbak. Saya peminum berat. Kalau udah minum, nggak berhenti sblm (isi) botolnya habis. Tepar di lantai." -- Jagad berlari dan tertawa-tawa dengan pedagang lain yang satu deretan kiosnya dengan milik pak Bobby. Ia anak ketiga (untuk saat ini). 

"Saya berhenti minum... karena anak sulung saya. Waktu itu dia 5 tahun. Dia sempat ngediemin saya, dulu. Awalnya dia nggak mau cerita 'kenapa nggak mau ngomong sama bapak?', taunya dia bilang, 'saya malu pak. Pas temen saya datang, bapak mabuk kayak gitu.' -- Langsung saya berhenti saat itu juga. Nggak pake dikurangin dulu gitu botol bir saya, saya berhenti total detik itu." 

"Badan saya dulu menggigil kalau nggak minum. Untungnya saya nggak pernah 'make' (narkoba), diajak minum sama kru yang lain udah jarang saya ikutin... Lebih mikir efeknya aja sih sekarang mbak. Pekerjaan kacau, emosi juga jadi nggak stabil, kan? Bisa jadi lebih parah kalau saya masih minum, berantem sama istri saya, dan saya 'kasar' sama dia... Aduh, itu saya nggak berani (efeknya)."

Warung makan Amigos di sore hari lumayan sering didatangi. Ayam penyetnya enak juga sih.  
(Gambar menyusul)

Mirror site: Zink! 

No comments:

Post a Comment