Pages

Tuesday, April 30, 2013

Cadar Shafira


Baru duduk kemarin nunggu kereta dari Depok ke Tebet, when I met Shafira (35), dengan anak laki-lakinya yang duduk di sebelah gue.

She wear cadar hitam yang menutupi kepalanya dan wajah, hingga gamis hitam legam ke kaki, berikut jemarinya dengan sarung tangan kaus berwarna hitam. Out of curiousity (penasaran), karena gue belum pernah bicara dengan yang pakai 'cadar total' sebelumnya, so I introduced myself to her. 

Gue: Sori ya mbak, kalau tiba-tiba ngajak ngobrol begini. Soalnya saya belum pernah ngobrol, tanya-tanya gitu sama yang pakai cadar

Shafira: Oh nggak papa (tertawa), namanya juga penasaran. Boleh, silakan tanya aja.

Gue: Udah berapa lama pakai cadar?

Shafira: Saya sudah 2 tahun... Sebelumnya saya sama kayak adik (merujuk ke gue yang pakai polo shirt dan jeans), tapi terus saya memutuskan pakai ini (cadarnya)

image

Gue: Hmm.. Kalau boleh tahu, apa yang membuat mbak pakai cadar?

Shafira: Alhamdulillah, hidayah Allah.
-- Hingga akhir ngobrol, beliau tidak menyebutkan bentuk hidayahnya seperti apa. I respect her dengan nggak nanya usil.

Gue: Waktu mbak pakai cadar ini, kesulitan nggak sih makainya? Ribet saat melakukan aktivitas?

Shafira: Nggak tuh... nyaman-nyaman aja. Tidak menghalangi saya bergerak.

Gue: Oke... Lalu, gimana pandangan orang-orang, stigma masyarakat waktu mbak pakai cadar ini?

Shafira: Saya pernah disangka teroris (hah?), pernah dikatain ninja juga (dia ketawa). Orang ada yang komentar, tapi ya begitu aja sih.

Gue: Oh gitu... hehe. Digangguin juga?

Shafira: Pernah saya digangguin (dengan nada heran), padahal saya sudah pakai ini (cadar) tetap digangguin juga ya? Tapi alhamdulillah, nggak pernah kelewatan, mungkin dilindungi Allah.

Gue: (Pertanyaan yang selalu pengen gue nanya, muncul) Mm, mbak. Saya pernah baca, (lupa baca dimana, novel, I guess) kalau di Arab Saudi, remaja perempuan disana, 16-17tahunan gitu, suka sembunyi-sembunyi pakai tank top dan celana jeans di balik burqa' nya. Jadi pas ortunya ngga ngeliat, mereka lepas atasan gitu, terus jalan ke mall, dst. Itu bener?

Shafira: Wah, gitu ya? Saya juga baru denger (ketawa renyah). Saya nggak tahu sih kalau yang itu. Cuma kalau cerita lain sih pernah, ada perempuan Arab Saudi yang pernah ke Indonesia, pas di Indonesia, burqa'nya dilepas, tapi pas balik lagi ke Arab dipake lagi.

Gue: (really? ke Indo cuma jadi transit lepas jilbab doang? serius?) Terus pendapat mbak gimana (soal 2 kejadian di atas, terutama si remaja arab gaul yg gue bilang) ?

Shafira: Kasihan aja... Nggak dapet manfaatnya kalau begitu. Gunanya hijab kan untuk melindungi... Ya mungkin anak-anak remaja tersebut melakukannya karena dipaksa orangtua... kan kalau disana juga peraturan kan. Wajib pakai. Si anak remaja tersebut merasa berat karena dipaksa memakainya. Makanya dilepas. Coba kalau dari keinginan sendiri...

Gue: Hmm... btw, pekerjaan mbak apa?
Pertanyaan soal pekerjaan muncul dikarenakan gue ingin tahu jenis pekerjaan apa yang membuatnya bisa menggunakan cadar secara total. Yang gue lihat itu tertutup banget loh, dari atas sampai bawah (kecuali matanya). Kebanyakan pekerjaan yang gue tahu di era modern ini kebanyakan tidak memperbolehkan hijab secara total. Hijab biasa mungkin, tapi kalau cadar total, blm tahu. 

Shafira: Saya guru.

Gue: (mengangguk - ok, bisa dimengerti) Guru ngaji?

Shafira: Nggak, guru matematika.

Gue: Guru matematika, as in di kelas?

Shafira: Nggak, saya di pondokan.

Gue: Ok... Itu pondokan sistemnya ngariung* / beneran di dalam kelas? ("Dalam kelas", she said) Mmm, itu ada kesulitan nggak waktu menyampaikan materi ajaran? (considering mulutnya nggak kelihatan, karena ditutupi cadar, so I assume suaranya juga bergumul di dalam 'nggak kedengeran')

Shafira: Nggak, baik-baik aja tuh. Saya malah kadang sering teriak kalau lagi ngajar (tertawa - He?) Nggak kok, nggak ada kesulitan berarti. Kalau sudah dijalani apalagi sudah tulus ikhlas, ya semuanya aman-aman saja.

Ibu Shafira adalah seorang pengguna Niqab* yang setia. Suaminya bukan ustadz, dan dia juga jarang ikut pengajian. Ia dan suami sering berdiskusi tentang syariah kalau lagi sharing.

Gue: Saya sering mendapati muslim yang keras, yang kesannya antipati banget dengan yang bukan muslim. Kalau ibu sendiri bagaimana?

Shafira: Kalau untuk urusan ukhwuwah (kebersamaan/silaturahmi), saya nggak papa kok berkumpul. Cuma saya selalu pegang agama saya. Buat saya agama saya yang benar. Allah juga bilang kan? "Agama yang selain Islam itu kafir.", Jadi saya sebatas itu saja pendapat saya.

Pembicaraan berakhir begitu kereta Bu Shafira datang. Gue masih menunggu kereta gue.
---
*Ngariung (bahasa sunda); berkumpul, sistem kelas yang ngga ada bangku & meja, semuanya duduk bersila di lantai.

No comments:

Post a Comment